Category: Uncategorised

Panduan Code of Practice (COP) Lingkungan untuk Konstruksi

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, maka diharuskan mengacu pada panduan Code of Practice (COP) lingkungan, seperti berikut:

Panduan Code of Practice (COP) Lingkungan untuk Konstruksi

Spesifikasi-spesifikasi berikut harus dituangkan baik dalam dokumen penawaran maupun dalam kontrak konstruksi dari Sustainable Management of Agricultural Research and Technology Dissemination (SMARTD) Project. Spesifikasi-spesifikasi tersebut akan menjadi kewajiban kontrak bagi para kontraktor dan dapat diterapkan dan diawasi oleh Badan Litbang Pertanian.

Tanggung Jawab Lingkungan untuk Kontraktor

  1. Mematuhi semua persyaratan perundang-undangan yang relevan di Indonesia;
  2. Mengimplementasikan Rencana Pengelolaan Lingkungan (Environmental Managemen Plan / EMP) selama durasi periode konstruksi;
  3. Memonitor efektivitas implementasi EMP dan menyimpan data hasil monitoring;
  4. Melaporkan data hasil monitoring kepada Kantor Proyek SMARTD;
  5. Mempekerjakan dan melatih staf yang berkualifikasi sesuai untuk bertanggung jawab atas EMP;
  6. Mematuhi Chance Find Procedure (Prosedur Penemuan Tak Terduga) untuk Sumber Budaya Fisik; dan
  7. Menghentikan aktivitas konstruksi setelah menerima instruksi dari Kantor Proyek SMARTD, dan jika dibutuhkan, mengusulkan dan menjalankan perbaikan dan mengimplementasikan metode konstruksi alternatif untuk meminimalkan dampak lingkungannya.

Larangan

  1. Penebangan pohon di luar area konstruksi yang telah disetujui dengan alasan apapun;
  2. Gangguan terhadap apa saja yang memiliki nilai arsitektur atau sejarah;
  3. Pembuangan sampah atau limbah konstruksi dengan sembarangan;
  4. Tumpahan zat-zat polutan, seperti produk minyak; dan
  5. Pembakaran sampah dan/atau sisa tumbuhan dari lahan yang dibersihkan.

Debu

Penggunaan air dalam interval waktu tertentu untuk membasahi area yang berdebu saat kondisi berangin.

Kebisingan

  1. Aktivitas konstruksi hanya dijadualkan pada siang hari (pukul 8 pagi sampai pukul 6 sore).
  2. Pekerjaan yang dilakukan setelah jam kerja harus diberitahukan terlebih dahulu kepada masyarakat sekitar proyek paling tidak satu minggu sebelumnya.

Pengelolaan Limbah

  1. Membentuk dan melaksanakan prosedur pembersihan harian di lokasi proyek, termasuk pemeliharaan penyimpanan yang memadai, fasilitas pembuangan dan daur-ulang untuk sampah umum, sampah padat, tanah dan puing konstruksi.
  2. Semua sampah padat yang tidak dapat didaur-ulang harus dipindahkan oleh institusi penanganan sampah yang telah disetujui, dan dibuang di luar lokasi pada area yang telah disetujui/ berijin.
  3. Minyak limbah dan limbah berbahaya lainnya (termasuk tanah yang telah terkontaminasi dan tumpahan minyak) harus disimpan tertutup dan dipisahkan dari limbah lainnya. Limbah jenis ini harus dipindahkan oleh transporter berijin ke fasilitas pembuangan yang juga berijin.
  4. Saat pekerjaan selesai, seluruh puing dan sisa konstruksi harus dipindahkan dari lokasi proyek.

Kesehatan dan Keselamatan Pekerja

  1. Kontraktor mematuhi seluruh peraturan yang berlaku di Indonesia dan SOP sesuai EMP terhadap pekerja.
  2. Seluruh staff dilengkapi dengan peralatan perlindungan diri yang sesuai, yaitu helm pelindung (hard hats) dan pakaian keamanan (high visibility clothing).

Pembukaan Lahan Baru

  1. Pembukaan lahan hanya dapat dimulai jika seluruh prosedur LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan - Pembebasan Lahan dan Rencana Pemukiman Kembali) telah diselesaikan;
  2. Sebelum pembersihan lahan dari tumbuhan, pastikan bahwa semua sampah dan materi non-organik telah dipindahkan dari lahan yang akan dibuka.;
  3. Siapkan dan lindungi tanah humus untuk digunakan ulang dalam rehabilitasi tapak;
  4. Hindari penggunaan zat kimia untuk pembersihan lahan dari tumbuhan.

Pengelolaan Erosi dan Sedimentasi

  1. Area lahan yang terkena erosi dan sedimentasi diusahakan sekecil mungkin dan menstabilkan area secepat mungkin.
  2. Arahkan air hujan (stormwater) dari area di sekeliling situs pekerjaan dengan menggunakan jalur-jalur pembuangan sementara.
  3. Pasang struktur-struktur pengontrol sedimen di mana diperlukan atau belokkan alur sedimen dan tahan sedimen di situ sampai vegetasi telah cukup tumbuh. Stuktur-struktur pengontrol sedimen termasuk di antaranya adalah bak penampungan, tumpukan jerami (straw bales), pagar tanaman (brush fences) dan pagar dari bahan karung (fabric silt fences); dan
  4. Di area di mana aktivitas konstruksi telah selesai dan di mana tidak ada lagi gangguan yang akan terjadi, re-vegetasi harus dilakukan secepat mungkin.

Re-Vegetasi dan Restorasi Lahan

Lokasi konstruksi dan sekitarnya harus dikosongkan dan pekerjaan perbaikan yang diperlukan, jika ada, harus segera dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku.

ENVIRONMENTAL MANAJEMEN LINGKUNGAN DAN MONITORING PROGRAM

Environmental Management Plan (EMP)

Pre-Construction

Dampak
Lingkungan atau Sosial

Aksi-Aksi Mitigasi Pada Waktu Pra-Konstruksi

Biaya

Penanggung-jawab

Mulai

Selesai

Dampak Umum / Keseluruhan

Environmental Codes of Practice (COP) untuk konstruksi akan dimasukkan dalam Spesifikasi Kontraktor

Minor, termasuk biaya tender

Tim SMARTD

Persiapan Tender

Penghar-gaan tender konstruksi

Dampak Umum / Keseluruhan

Seluruh undang-undang dan peraturan di Indonesia yang berkaitan dengan lingkungan akan dipatuhi selama masa konstruksi

Minor, termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor Konstruksi

Persiapan Tender

Akhir Konstruksi

Konstruksi

Dampak Lingkungan atau Sosial

Aksi-Aksi Mitigasi Pada Waktu Pra-Konstruksi

Biaya

Penanggung-jawab

Mulai

Selesai

Penebangan Tanaman

Areal tanaman akan diminimalisir

Semua tanaman yg ditebang secara mekanis atau manual – tanpa menggunakan herbisida

Bahan yang berharga akan ditawarkan kepada masyarakat sekitar

Semua tanaman lainnya akan dibuang di fasilitas pengkomposan atau pembuangan sampah yang disetujui oleh otoritas pemerintahan lokal.

Minor, termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor Konstruksi

 

Pada awal konstruksi

 

Setelah konstruksi selesai

Penemuan tak terduga artefak bernilai budaya

Pada penemuan artefak berharga, semua aktivitas kerja konstruksi harus dihentikan dan prosedur penemuan tak terduga harus dipatuhi

 

Minor, termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor Konstruksi

 

Pada awal konstruksi

Setelah konstruksi selesai

Debu

Lokasi konstruksi akan disiram dengan air , khususnya selama kondisi kering dan berangin.

Minor, termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor Konstruksi

Pada awal konstruksi

Setelah konstruksi selesai

Kebisingan

Aktivitas konstruksi akan dilakukan pada jam kerja normal (dari jam 8:00 sampai jam 17:00). Apabila aktivitas konstruksi dilakukan sebelum atau sesudah batas waktu kerja yang ditentukan, masyarakat setempat harus diberitahu tentang hal tersebut paling tidak seminggu sebelumnya.

Tanpa biaya

Kontraktor Konstruksi

Pada awal konstruksi

Setelah konstruksi selesai

Kedatangan di lokasi, dan khususnya instalasi, kontraktor akan memastikan bahwa peralatan sudah memenuhi standard emisi, kebisingan yang dituangkan dalam dokumen tender

Minor, termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor

Khusus untuk perakitan peralatan

Khusus untuk perakitan peralatan

Limbah beracun dan berbahaya (B3)

Limbah berbahaya akan dikelola oleh kontraktor berdasarkan peraturan limbah berbahaya di Indonesia. Data sejarah akan dicatat dan disimpan.

Minor, termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor konstruksi

Pada awal konstruksi

Setelah konstruksi selesai

Kesehatan dan Keselamatan Pekerja Konstruksi

Semua pekerja akan mendapat jaminan kesehatan dan keamanan kerja oleh kontraktor.

 

Minor, termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor konstruksi

Pada awal konstruksi

Setelah konstruksi selesai

 

Semua pekerja akan disediakan dengan helm dan sepatu boot.

Termasuk dalam kontrak konstruksi

Kontraktor konstruksi

Pada awal konstruksi

Setelah konstruksi selesai

Referensi

  1. SNI Gempa : Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung (SNI 1726-2002-F, Badan Standarisasi Nasional)
  2. SNI Beban : Pedoman Perencanaan Pembebanan unruk Rumah dan Gedung (SNI 1727-1989-F)
  3. SNI Beban : Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-1991-03)
    Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-202. Badan Standarisasi Nasional)
  4. SNI Baja : Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1729-2002, Badan Standarisasi Nasional)
  5. IMB : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 24/PRT/M/2007 tanggal 9 Agustus 2007 tentang: Pedoman Teknis izin Mendirikan Bangunan (IMB). Direktorat Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum.
  6. Baku mutu air limbah B3 diatur dalam PP No. 85 tahun 1999.
  7. SNI 06-2508-1991 Metode Pengujian Kadar Pestisida Klor Organik dalam Air dengan Alat Kromatograf Gas.
  8. SNI 06-2509-1991 Metode Pengujian Kadar Pestisida Karbamat dalam Air dengan Alat Kromatograf Gas.
  9. SNI 06-2510-1991 Metode Pengujian Kadar Pestisida Fosfat Organik dalam Air dengan Alat Kromatograf Gas.
  10. SNI 19-2454-2002. Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan
  11. UU No 23 tahun 1997. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kementerian Lingkungan Hidup.
  12. K3 Konstruksi Bangunan
    UU No. 13/2003 : Ketenagakerjaan
    UU No. 1/1970 : Keselamatan Kerja
    UU No. 18/1999 : Jasa Konstruksi
    SKB Menaker & PU No.174/104/86-K3 Konstruksi
    Permenaker No. 5/1996 – SMK3
    Inst Menaker No 01/1992 Ttg Pemeriksaan Unit Organisasi K3

Standard:

  1. PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia
  2. SII : Standar Industri Indonesia
  3. ASTM : American Society for Testing and Materials
  4. ACI : American Concrete Institute
  5. AISC : American Institute of Steel Construction
  6. JIS : Japanese Industrial Standard
  7. UBC : Uniform Building Code 1997

Referensi tambahan:

  1. ACI Commentary Building Code and Commentary – ACI 318-83/86/89
  2. Note on ACI : Note ACI 318-83/89
Copyright © 2018 SMARTD. (Sustainable Management of Agricultural Research and Technology Disseminations).